The Latest

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Berialah Aku sepuluh orang tua, akan Aku runtuhkan gunung-gunung. Berilah Aku sepuluh Pemuda, maka akan Aku goncang Dunia (Ir. Soekarno).

Kalimat di atas sudah sering kita dengar. Dan banyak kalimat sejenis lainnya yang intinya tentang urgensi pemuda dalam kehidupan. Bahkan sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemudalah yang selalu berdiri di depan dalam menghadapi setiap persoalan bangsa, baik pada masa perjuangan kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan, masa transisi sampai masa reformasi pada saat sekarang ini.

Entah karena hal itulah kemudian, banyak partai-partai politik dalam menghadapi pemilu pada ujung 2013 dan awal 2014 membuat sayap organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Dan banyak pemuda dan mahasiswapun yang berbondong-bondong untuk ikut aktif dalam organisasi sayap partai tersebut.

Sebut saja partai Nasdem dengan Liga Mahasiswanya, Golkar dengan AMPI-nya, dan partai-partai lain serta sayap-sayap partai lainnya yang dikhususkan untuk pemuda dan Mahasiswa.

Fenomena tersebut bisa di bilang baru terjadi di Indonesia. Tentu saja harapan kita akan fenomena tersebut adalah terciptanya iklim politik demokratis yang menjunjung nilai-nilai pancasila dan adat kesopanan.

Namun di balik itu semua harus di akui akan adanya efek positif dan negative dari terjunnya para pemuda dan mahasiswa ke medan sayap partai politik-praktis. Tentu saja efek positif dan negatif tersebut harus segera kita sadari dan yang negatif bisa di buatkan langkah antisipatif.

HARAPAN

Sistem politik nasional kita bisa di bilang buruk. Salah satu yang menjadi sorotan adalah system kaderisasi partai yang jarang mengorbitkan para politisi muda. Buktinya, sejak pasca reformasi pada tahun 1998 sampai saat ini, yang selalu tampil selalu saja tokoh tua. Meski akhir-akhir ini sudah mulai lahir politisi-politisi muda seperti Muhaimin Iskandar (Menristek dan ketua umum PKB), Anas Urbaningrum (Ketua umum Demokrat), Edi Baskhoro Yudhuyono (Sekjen Demokrat) serta Puan Maharani (PDIP) dan tokoh independen seperti ketua KPK, Abraham Shamad.

Dan terjunnya para pemuda dan mahasisiwa ke sayap-sayap partai politik akan memperbaiki proses kaderisasi kepemimpinan di negri ini. Selain itu, idealisme para mahasisiwa diharapkan mampu menjadi semacam SMADAV yang akan membunuh firu-firus Demokrasi seperti Money politik dan institusi pemerintahan yang tidak transparan alias tertutup sehingga menyebabkan timbulnya tindakan koruptif oleh para pejabat.

Jika demikian, terciptalah sebuah iklim politik yang baik serta pemerintahan yang transparan layaknya system demokrasi yang kita harapkan. Ditambah dengan kalaborasi antara politisi muda dan tua, akan melahirkan sebuah pemikiran positif bagaimana memperbaiki bangsa yang pernah jaya ketika masih bernama Nusantara.

Tentu efek positif tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja tanpa didorong dengan sebuah usaha yang baik dari seluruh elemen bangsa yang masih mencintai negri ini. Misalnya dengan proses kaderisasi yang kompetitif oleh partai, baik yang ada dipemerintahan maupun diluar pemerintahan dengan cara tidak mencontohkan citra yang negatif seperti melakukan tindakan koruptif, gratifikasi dan tidak hadir dalam rapat bagi yang duduk di meja DPR.

KEKHAWATIRAN

Bahkan kemungkinan efek negatif dari fenomena perpolitikan negri ini dirasa cukup membahayakan system demokrasi yang belum maksimal ini. Efek negatif ini bahkan akan mengancam eksistensi bangsa kedepannya.

Kenapa penulis bertanya demikian??? Sebab diakui atau tidak para politisi kita masih menunjukkan citra yang negatif misalnya dengan maraknya tindakan korupsi yang dilakukan oleh anggota partai di parlemen. Dan selama ini yang menjadi agen of social control dari tindakan pemerintah yang bejat itu berasal dari kelompok muda dan mahasiswa. Mereka selalu di depan menuntut agar pejabat pemerintahan yang melakukan kesalahan di adili sesuai undang-undang. Jika mereka semua terjun ke dunia politik praktis siapakah yang akan mengontrol pemerintahan kita secara independen.

Inilah letak permasalahannya. Sebab, sudah menjadi fakta bahwa mantan aktifis mahasiswa yang terjun ke dunia politik praktis tidak dapat mempertahankan idealismenya. Mereka seakan tidak mampu melawan system. Maka jangan heran jika kemudian Anas Urbaningrum, Muhaimin Iskandar dan Andi Malarangeng terjerat kasusu korupsi. Padahal selama ini Anas Urbaningrum dikenal sebagai mantan ketua sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar dinegri ini.

Itulah kekhawatiran ketika mahasiswa dan pemuda terjun langsung menjadi kaki-tangan partai politik dengan terjun di organisasi sayapnya. Jika yang terjadi adalah seperti para pendahulu mereka, maka akan semakin kacaulah Negara kita. Sebab dengan umur yang masih muda mereka akan memiliki waktu yang cukup panjang untuk terus ada dalam lingkaran setan.

Oleh karena itulah, dengan waktu yang terbilang cukup panjang, sekitar satu tahun mendatang pemilihan akan kita gelar, alangkah baiknya jika para senior politisi benar-benar melakukan pengkaderan yang baik agar melahirkan pemuda politisi sekaligus negarawan hebat.

Semoga fenomena ini bisa membawa berkah bagi kemajuan bangsa kita. Semoga para pemuda yang terjun ke dunia politik praktis tetap menjaga idealismenya dimanapun berada, terutama ketika berada dalam system pemerintahan.

Setiap tanggal 22 Desember, kita Rakyat Indonesia turut serta merayakan hari Ibu tinternasional. Tentu hal ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada perempuan, Ibu yang telah mengandung manusia selama Sembilan bulan hingga lahir ke dunia, Ibu yang menjadi manusia paling berjasa dalam menjaga keberlangsungan kehidupan manusia di dunia sampai detik ini. Tanpanya, mustahil sejarah manusia akan berlangsung sampai sekarang.

Dan jika di selami lebih dalam lagi, kita akan menemukan mutiara pelajaran yang memiliki nilai yang mendalam, misalnya tentang kecintaan kita terhadap Ibu pertiwi, Indonesia. Dan dalam tulisan pendek ini, penulis ingin mencoba untuk menghubungkan hari Ibu ini dengan nilai-nilai pendidikan. Tentu hal ini dimaksudkan untuk memperoleh nilai lebih dari hari Ibu yang selalu kita rayakan setiap tanggal 22 Desember. Sebab selama ini kita hanya sekedar melakukan acara seremonial dan hanya tentang perempuan tanpa meghubungkan dengan permasalahan krusial bangsa lainnya, seperti dalam pendidikan.

Tulisan pendek ini kemudian menemukan momentumnya sebab pada saat ini, menteri pendidikan kita, M. Nuh akan menerapkan system baru dalam dunia pendidkan nasional. Semoga saja system itu bisa melahirkan manusia-manusia yang diharapkan, seorang anak bangsa yang mampu mengharumkan bangsanya dimata bangsanya sendiri dan bangsa-bangsa lain di dunia.

Melihat kembali sejarah Indonesia yang ditayangkan lewat buku-buku, kita akan disuguhkan sebuah fakta menarik bahwa antara perempuan dengan pendidikan memiliki nilai historis yang cukup lekat.

Salah satunya seperti dicontohkan oleh tokoh sejarah bangsa Indonesia, Kartini yang kita kenal sebagai tokoh emansipatoris perempuan nasional. Juga seperti Cut Nyak Dien yang melulu ditokohkan sebagai pahlawan dari kalangan perempuan yang memperjuangkan pembebasan bangsa dari penjajahan bangsa asing. Padahal kedua tokoh ibu tadi juga ikut andil dalam hal pendidikan: bagaiman pendidikan seharusnya dijalankan dan diberikan kepada seseorang.

Pada hakikatnya, Pendidikan adalah proses untuk memanusiakan manusia: dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, bisa menjadi tahu layaknya manusia yang telah diberi kemampuan fikiran untuk memiliki ilmu pengetahuan sebagai penunjang kehidupan yang penuh peradaban. Sehingga dengan tempaan pendidikan dan pengetahuan yang didapatkan, bisa membuat sesorang menjadi manusia seharusnya. Bukan manusia seperti hewan yang tidak berpengetahuan, akal-fikiran perasaan.

Itulah nilai pendidikan yang dilakukan oleh tokoh perempuan kita itu: melawan tindakan yang tidak manusiawi dan memanusiakan manusia yang diperlakukan seperti bukan manusia layaknya. Memperjuangkan kemerdekaan dari semua bentuk penjajahan agar dapat berkreasi dalam kehidupan; membebaskan dari semua ketertekanan dan belenggu sistem budaya dan penjajah belanda pada masa itu.

Namun yang terjadi selama ini malah tidak mencerminkan proses memanusiakan manusia, melainkan menjadikan manusia layaknya burung yang harus tahu berbunyi ini dan itu seperti yang diharapkan pemiliknya. Karena akan membuat harga burungnya menjadi mahal dan menguntungkan. Bahasa gampangnya, pendidikan kita tidak membebeskan, tapi penuh pemaksaan. Dan segala bentuk pemaksaan itu tidak mencerminkan manusia beradab.

Kenapa penulis mengatakan seperti itu??? Karena memang demikian kenyataan yang kita saksikan dan rasakan: bagaiman kemudian pemerintah dengan sistemnya mengharuskan peserta pendidikan harus menguasai mata pelajaran ini sehingga bisa lulus dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak pernah pemerintah membiarkan peserta didik untuk mendalami minat dan kemampuannya. Karena meskipun seorang peserta mampu menulis karya tulis, pintar dalam pelajaran agama, cerdas dalam berbisnis, dan bisa sukses menjadi pemimpin di organisasi yang diikuti misalanya, namun tidak bisa mengikuti system atau tidak memiliki pengetahuan yang diwajibkan pemerintah, maka kemampuan dan keilmuan tadi seakan tidak memiliki arti. Artinya, peserta pendidikan tersebut dinilai belum mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat diatasnya. Ironis sekali bukan?!!

Kembali pada hari ibu yang kita rayakan setiap tanggal 22 Desember, pantaslah jika kita belajar pada sesosok perempuan bernama Ibu, sosok perempuan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini yang melakukan gerakan memanusiakan manusia, gerakan pembebasan kreasi dan sebagainya yang merupakan hakikat nilai pendidikan.

Selain itu, semangat keibuan juga harus menjadi spirit dalam dunia pendidikan nasional: Ibu yang penuh kasih-sayang, ibu yang tidak memaksakan, ibu yang tidak memiliki kepentingan terhadap anaknya dan Ibu yang memiliki keinginan yang terbaik buat buah hatinya. Jika demikian, maka tidak ada lagi perubahan kebijakan dalam dunia pendidikan Karena perubahan mentrinya. Karena setiap mentri yang selalu bergonta-ganti itu akan disatukan dalam visi dan misi yang sama; demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia.

Jika semangat keibuan kita cangkokkan pada dunia pendidikan, harapan Indonesia memiliki banyak tokoh dalam ilmu pengetahuan tinggal menunggu giliran: Kita akan punya penulis Novel, Puisi, tokoh matematika, tokoh filsafat dan tokoh-tokoh lainnya bertaraf dunia. Akhirnya  Indonesia bisa berdiri bangga diantara bangsa-bangsa. Semoga!!!

Maka, marilah kita kaji kembali apakah sistem pendidikan yang baru itu sudah memberikan ruang luas untuk tempat berkreasi anak-anak bangsa atau masih saja tetap penuh pemaksaan.

Pada hari ibu pada kesempatan tahun ini kita jadikan ajang refleksi, selain untuk menghormati semua perempuan, baik yang akan, sedang dan telah menjadi ibu, juga sebagai refleksi bagaimanakah pendidikan kita seharusnya dilaksanan. Selamat merayakan hari Ibu. Sukses selalu untuk semua perempuan yang akan, sedang dan telah selesai menjadi Ibu.

Pada peringatan hari anti korupsi pada tanggal 09 Desember kemarin, seorang pemateri yang berprofesi sebagai advokat bercerita bahwa dirinya ikut terjun ke sebuah partai politik untuk melihat, merasakan dan mengetahui aktifitas partai politik. Namun dengan lantang saya mengatakan bahwa hal itu tindakan yang kurang benar, mesku bukan salah. Hal ini bukan berarti karena saya anti partai. Tidak. Sekali lagi tidak. Akan tetapi karena sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa partai sudah menjelma menjadi semacam pabrik yang memproduksi tikus-tikus berdasi alias koruptor. Bukan partai yang melahirkan kader pejuang ideology partainya sendiri yang semuanya berasaskan pancasila. Mungkin statemen semacam itu terlalu ekstrem dan tidak sedikitpun memberikan penghargaan kepada partai politik yang bagaimanapun bentuknya menjadi salah satu dari tegaknya demokrasi. Sebab dengan adanya partai, maka akan tercipta sebuah iklim cek and balance, penguasa yang akan menjalankan pemerintahan dan oposisi sebagai pengontrol dari kebijakan pemerintah. Namun demikian, apa yang ditulis dalam paragraph sebelumnya menjadi benar ketika realita di lapangan menunjukkan bahwa system kontrol kepada pemerintah seakan tidak berjalan semestinya. Bahkan antara pemenang pemilu dan oposisi bekerja sama untuk menghidupi partainya. Tentu dengan berbagai kompromi poltik. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah dengan bagi-bagi kekuasaan dan akses keuangan. Maka jangan heran jika kemudian kasus century yang sudah sekian tahun umurnya tidak menemukan kejelasan nasib. Bahkan pihak oposisipun seakan diam tanpa perlawanan ketika aliran dana century tersebut mengalir ke kantong partai-partai pemenang pemilu dan yang berkoalisi. Meski hanya sebatas konklusi pandangan dari beberapa penyelidikan yang telah di lakukan, dikatakan diamnya parpol oposisi tersebut ditengarai karena partainya ikut merasakan aliran dana century tersebut. Pendapat demikian bisa dibilang cukup masuk akal mengingat partai oposisi biasanya mengambil keuntungan politik dengan mengungkap kasus-kasus yang menjelekkan partai pemenang pemilu. Apalagi menjelang pemilu legeslatif dan eksekutif pada tahun 2013 dan 2014. Ketidak Dewasaan Parpol Dari kasus dan analisa itulah kemudian saya memiliki pandangan yang buruk terhadap partai hingga menyalahkan seseorang yang terjun kesebuah partai politik. Sebab saya kira, terjadinya kasus seperti itu dilatar belakang oleh system partai kita yang masih belum dewasa. Salah satu bentuk ketidak dewasaan partai-partai Indonesia adalah tidak jelasnya peran dan fungsi dari partai pemenag pemilu dan yang berkoalisi serta partai-partai yang memilih posisi sebagai oposisi. Keduanya seharusnya menjalankan jalurnya masing-masing: pemenang pemilu menjalankan pemerintahan dengan baik, sedangkan partai oposisi meperbaiki kinerja pemerintah dengan cara kontroling. Ironisnya lagi, tindakan-tindakan kebanyakan kader partai yang mencerminkan suatu sikap tidak baik, misalnya dengan melakukan tindakan korupsi, menyalah gunakan jabatan atau selalu tidak hadir ketika rapat bagi anggota DPR dalam membahas tentang suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan rakyat. Padahal antara yang pemenang dan yang oposisi seharusnya saling menjaga nama baik dihadapan rakyat Indonesia untuk menjaga kredibilitas partainya. Akan tetapi kenyataan yang ada malah menunjukkan suatu kenyataan bahwa partai-partai kita selalu memproduksi para politisi dan negarawan yang tidak berkualitas. Hanya sedikit kader partai yang benar-benar mumpuni dalam menjalankan amanat kenegaraan. Dan yang sedikit itu terproduksi karena kecelakaan dan biasanya akan menemui banyak kesulitan dalam menjalankan tugasnya, seperti kasus Lily Wahid dari partai PKB versi Muhaimin. Lihat saja kasus-kasus korupsi yang terjadi, kebanyakan dilakukan oleh kader partai, mulai dari Demokrat, PPP, PKB dan lainnya yang tidak akan muat dalam satu edisi surat kabar (koran) memuat daftar nama-nama kader partai yang melakukan tindakan yang tidak seharusnya di lakukan. Dalam kasus korupsi pun, KPK menerima lebih dari seribu laporan yang dalam istilah Jawa Pos Edisi 08 Januari 2012 di editorialnya diistilahkan Air Bah korupsi. Maka tidak salah jika kemudian banyak partai-partai dipandang negatif dengan disebut sebagai pabrik atau sarang dalam melahirkan para koruptor tangguh dan canggih. Sebuah image negetif yang mengancam partisipasi masyarakat dalam menumbuhkan semangat demokrasi karena ketidak percayaan terhadap partai-partai peserta pemilu. Tentu hal semacam itu menjadi preseden buruk terhadap keberlangsungan demokrasi kita. Sebab demokrasi bagaimanapu memerlukan partisipasi rakyat dalam menentukan siapakah pemimpin yang pantas untuk dijadikan sebagai pengemban amanat rakyat di pemerintahan demi mengawal demokrasi. Dan jika hal itu tidak segera dirubah secepat mungkin, jangan heran apabila partai politik yang buruk akan hancur dan beralih kepada independensi. Peristiwa semacam itu sudah terjadi di Jakarta. Jokowi yang bukan putra daerah asli tapi dengan track record yang baik mampu meraih simpati warga ketimbang calon incumbent. Para pengamat menganggap ini adalah gaya berpolitik masyarakat yang makin dewasa dengan memilih pemimpin berkualitas dan pantas untuk ditunjukkan di pentas kepemimpinan yang berkelas. Tidak seperti dulu yang lebih mengikuti partai pemberi uang saja. Sekarang rakyat tidak bisa dibeli. Sebab masyarakat mulai sadar bahwa hak suaranya akan menentukan nasib dirinya, keluarganya, tetangganya, desanya, kecamatannya, kabupatennya, propinsinya bahkan bangsanya, Indonesia tercinta. Maka dapat diambil kesimpulan tentang bagaimanakah nasib partai selanjutnya; nasib partai ada ditangannya sendiri. Bagi yang bisa memperbaiki diri dan berhijrah ke system yang lebih cerah, gairah kesuksesan akan di dapatkan dengan dukungan segenap masyarakan yang sudah berfikir lebih maju kedepan. Akan tetapi partai yang tidak berbenah diri, suatu hari nanti akan mati karena ditinggal pergi masyarakat ke partai yang lebih bernilai bagi masa depan kehidupan ini. Akhirnya, partai harus memilih mau menjadi partai yang terpilih atau partai yang tak diminati sama sekali. Menjadi yang terpilih dan yang tak diminati tentu memiliki jalannya masing-masing. Biarkan partai menempuh jalannya sendiri dan menanggung nasib yang telah dipilih.
Sejarah telah mencatat dengan jelas bahwa para Founding Father and Mother bangsa 1001 pulau ini, Indonesia, berjuang menumpas kolonialisasi belanda dan militerisasi jepang tak lain dan tak bukan adalah karena kecintaan dan rasa memiliki yang tinggi terhadap bangsanya sehingga tidak rela jika bangsanya diinjak-injak oleh bangsa lain dan tidak terima jika saudara setanah-airnya dijadikan budak. Nasionalisme menjadi jiwa dari raga-raga para pendahulu kita yang sungguh luar biasa itu. Semua yang dimilikinya menjadi semacam sampah yang harus dibuang demi bangsa Indonesia.

Perbedaan Agama, Suku dan Kelas sosial dimasukkan kedalam keranjang sampah. Yang mereka pegang dengan erat dan dijunjung setinggi-tingginya adalah status ke-Indonesia-annya. Sehingga segenap rakyat bangsa Indonesia bersatu padu berjuang mewujudkan Indonesia yang merdeka dari segala bentuk penjajahan oleh siapapun dan apapun saja.

Seperti itulah para pendahulu kita, nenek moyang yang telah melahirkan kita. Dan seharusnya jiwa-jiwa mereka menjadi jiwa-jiwa kita sebagai penerus perjuangannya. Atau jika memang jiwa itu telah istirahat setelah jasadnya kembali kepangkuan bumi, maka seharusnyalah bagi para pewaris pejuangannya untuk mengajari jiwanya mencintai bangsanya seperti sesepuh kita. Atau jika terasa berat kita ikuti saja ajaran agama mayoritas penduduk negeri sepotong pulau dari surga ini, Islam: Mencintai Negara-Bangsa (Nation State) adalah sebagian dari Iman.

Bukankah manusia Indonesia semuanya beragama??? Namun yang terjadi sekarang sungguh sangat jauh dari apa yang telah sejarah tuliskan. Seakan-akan, manusia Indonesia kini adalah manusia yang tidak memiliki garis keturunan manusia-manusia yang mencintai negrinya sendiri dan isinya dengan sepenuh hati.

Sepertinya ada keterpotongan gen yang hilang entah kenapa. Yang jelas semuanya memiliki garis tebal pembeda antara manusia Indonesia Pra kemerdekaan dan manusia Indonesia pasca kemerdekaan. Garis pembeda itu begitu tebal sehingga amat sangat nyata. Kenyataan yang tidak perlu dibuktikan. Cukup rasakan dan saksikan lalu bandingkan dengan sejarah yang telah diberikan sejak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

Jika Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo dan pejuang-pejuang lainnya dengan gagah berani melawan setiap penjajahan melalui berbagai cara dengan mempertaruhkan hidup yang cuma sekali karena ingin melihat bangsa ini bermartabat dimata bangsa-bangsa lain, Karena tidak terima rakyat dijadikan budak, karena kekayaan alam Indonesia dicuri, karena menginginkan bangsa ini merdeka dari segala-galanya.

Mereka melakukan demi kepentingan bangsa, bukan kepentingan diri sendiri. Mereka melakukan demi kepentingan bersama bukan ambisi pribadi. 

Semuanya demi Indonesia, bahkan nyawa sekalipun diabdikan untuk memerdekakan Indonesia dari perbudakan yang dilakukan bangsa-bangsa biadab tanpa kemanusiaan dan penuh dengan penyiksaan dan penderitaan. 

Sehingga mereka tidak terima dan berontak. Berbeda halnya dengan para petinggi negri yang katanya para wakil rakyat dipemerintahan. Para wakil rakyat ini, malah menajadi benalu yang lambat laun akan menghancurkan bangsa ini, perlahan akan memusnahkan rakyat Indonesia dan pada akhirnya hilanglah nama Indonesia.

Ya, tindakan koruptif mereka menghancurkan segalanya, segala yang dicita-citakan oleh leluhur bangsa, semua harapan yang diinginkan para pejuang kemerdekaan.

Yang terjadi kemudian tidak berbeda ketika nagara ini dijajah oleh Negara lain. Rakyat sama-sama menderita, sengsara, menjadi budak segelintir manusia, harta kekayaan bangsa diambil untuk kepentingan pribadi saja, rakyat tidak bisa berbuat apa-apa meski katanya sudah merdeka sebab dibatasi oleh peraturan yang merugikan dan hanya menguntungkan pihak yang kuat baik karena kekuasaan atau karena perekonomian. Bedanya hanya satu, kekacaubalauan yang terjadi saat ini dilakukan oleh mereka yang dalam identitas KTP-nya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sedangkan dulu karena bangsa lain yang tidak memiliki ikatan emosional apapun dengan kita. 

Inilah kenapa saya sebut seakan manusia Indonesia sekarang tidak memiliki silsilah biologis dengan manusia yang berhasil memerdekakan perbudakan bangsa yang dilakukan bangsa lain sejak abad 17 M lalu. Sebab, bukan hanya kaum elitenya saja yang tidak memiliki nasionalisme sehingga tega mengekploitasi rakyat dan kekayaan bangsa demi kepentingan pribadi saja. 

Bahkan, rakyat biasapun harus dipertanyakan rasa nasionalismenya dengan tanda tanya besar. Alasannya jelas dan buktinya tiap waktu selalu berulang, yaitu tiap pemilihan orang-orang yang bisa duduk dipemeritahan, meski belum tentu haknya yang dengan terang-terangan melakukan pembelian suara (Money Politic). Rakyat menerima dan memilih sesuai dengan intruksi dari sang pemberi tanpa memilah dan memilih, serta menimbang dan mempertimbangkan apakah nanti akan menjadikan bangsa ini sesuai dengan apa yang diharapkan pejuang-pejuang bangsa ini: berdiri diatas kaki sendiri (Berdikari), Bangsa yang bermartabat, bangsa yang tidak menjadi bangsa kuli diantara bangsa-bangsa dan harapan luhur lainnya. Entah ini adalah efek dari susuhnya hidup yang dijalaninya, yang jelas hal itu mencerminkan bahwa bangsa ini sudah tidak terlalu dicintai, cinta yang seharusnya diberikan pada sebuah tanah kelahiran yang darinya kita bertahan hidup dan ditanah itulah tanah dari jasad kita akan menyatu menjadi bumi bernama Indonesia. 

Kemanakah nasionalisme, apakah Ia ikut menjadi abu dan hanya menyisakan kenangan, harapan dan cerita seperti halnya para pejuang kemerdekaan yang hebat itu??? Sungguh naïf jika begitu dan sungguh terlalu apabila memang sengaja dibiarkan begitu.

Subhanllah!!! Seharusnya kita semua, warga Negara Indonesia membaca dan menghayati dengan sepenuh hati kisah pejuang bangsa yang rela mati demi harga diri bangsanya dan martabat rakyatnya. Bukan malah takut tidak hidup glamour lalu mengorbankan semuanya.

Saya bukannya fanatik ataupun menganggap pejuang kemerdekaan para dewa yang tanpa cacat kesalahan. Tidak. Namun kenyataan dan sudah menjadi fakta sejarah bahwa keluhuran dalam berbangsa dan bernegara yang dimilikinya menjadi pelajaran yang seharusnya diajarkan dan diamalkan. Lihat saja Bung Tomo, yang dalam kondisi fisik yang lemah karena sakit, beliau masih memimpin gerakan perjuangan mengusir para penjajahan. Itu satu contoh nyata.

Saksikanlah wahai para pejabat Negara, para rakyat jelata dan para Pemuda bahwa mereka melakukan itu semua atas nama cinta yang begitu mendalam pada bangsanya, rasa persaudaraan yang tinggi terhadap manusia setanah airnya hingga rasa sakitpun tak terasa. Bukankah cinta mengubah segalanya menjadi indah. Begitulah cinta mereka pada bangsanya. Semoga jiwa-jiwa nasionalisme mereka segera berinkarnasi kedalam setiap jiwa bangsa kita. Amin. Semoga?!!